Belajar dari Sumirah

November 4th, 2008 by bangsaid

Silakan diambil manfaatnya.

Menjadi tukang pijat belumlah cukup. Sumirah nyambi jadi tukang sol sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik. Sebagian hasil keringatnya itu ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid, musala, dan mengurus anak yatim.

Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.

Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya saat akan diwawancarai Surya untuk tulisan ini.

“Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang lebih bagus, lebih pintar dan lebih hebat”, elaknya saat ditemui di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut, Senin (15/9) lalu.

Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan pengusaha sukses. Namun kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki segelintir orang di abad ini.

Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti asuhan. Ia mendirikan madrasah, masjid, dan musala di kampungnya, Pacitan. Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim dengan menjadi tukang pijat panggilan.

Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya. Saat itu ada 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan (kebatinan) di rumah. Mereka semua? tinggal di rumah,・kata ibu lima anak ini.

Secara materi Sumirah kecil tercukupi, namun didikan ayahnya tidak membuatnya manja. Bahkan, sejak kelas II SD dia sudah menjadi tukang pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya ‘ditabung’ di musala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.

Saat itu saya masih ingat nasihat ayah.

“Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk musala. Pasti rezeki itu akan barokah”, kenangnya.

Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah dihasilkan, selalu disisihkan untuk musala. Begitu pula ketika orderan memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang.

Saat SMP, Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta. Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicip pekerjaan lain. Ndilalah, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986, Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya. Di kota ini, selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

Namun dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang, Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu, menjahit baju, dan tukang keriting rambut.

“Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari. Mijat saja sehari hingga 20 kali”, akunya sambil tersenyum.

Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia mengantongi Rp 2 juta. Namun limpahan uang itu tidak membuatnya mabuk. Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, musala-musala, dan masjid di desanya. Sumirah enggan menyebut nama-nama musala itu. nanti saya ndak di-ridhoi kalau pamer,・tukasnya.

Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya mem-paving seluruh jalan itu. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.

“Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi karena tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh kan?,” katanya.

Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di sekitar kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang berukuran 2,5 meter x 13 meter. Sebagian dari mereka saya kos-kan di depan rumah. Saya sewa tiga kamar,・katanya.

Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air dan sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 WIB, anak-anak itu diusir.

“Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil duduk”, kata Sumirah.

Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan Rp 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan, ia berdoa. Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono, dermawan dari Barata Jaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya zakat maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta.

“Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami pindahan”, katanya.

Panti Asuhan Amanah, kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah tahun 1996. Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya. Amelia, balita itu, sekarang berumur sembilan bulan.

“Oh ya, Saya sudah menikahkan 13 anak sini, 16 Oktober 2008 nanti saya mantu lagi”, ujarnya dengan mata berbinar.

Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan bantuan donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya. Selepas subuh, anak yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan suami juga membuka toko kelontong.

Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang,

“Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu mengerti”.

Sumber: Surya Online

Kepompong Ramadhan

September 7th, 2008 by bangsaid

Dalam terminologi fiqih, shaum ‘puasa’ adalah aktivitas ibadah dengan menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya (seperti makan, minum, dan ‘berhubungan’ suami istri), dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Di dalam surat Al-Baqarah ayat 187 Allah SWT berfirman, "Makan dan minumlah kalian hingga terang bagimu antara benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."

Setelah melalui puasa Ramadhan, individu muslim diharapkan meraih kesempurnaan diri yang dikenal dengan istilah ‘taqwa’. Di dalam surat yang sama ayat 183 dikatakan, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana (telah) diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." Perihal ketaqwaan, Alquran menyebutkan, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah (adalah) yang paling baik taqwanya."

Mengapa dengan puasa seseorang bisa berevolusi menuju kesempurnaan diri? Jawabannya ada pada makna dan manfaat yang terkandung dalam ibadah puasa itu sendiri. Pertama, manfaat fisik. Selama proses puasa, di dalam tubuh hanya terdapat sedikit zat makanan dalam proses pencernaan. Hal tersebut kemudian ‘memaksa’ tubuh melakukan pembakaran lemak dan zat-zat yang berbahaya (toksin). Banyak ahli kesehatan yang menganjurkan puasa atau yang mirip dengannya seperti diet sebagai terapi bagi pasien dalam menjaga kesehatan.

Kedua, puasa sebagai pendidikan mental. Dengan puasa, seseorang dididik untuk bersabar dan melatih kedisiplinan. Untuk kembali makan dan minum (berbuka), kita harus bersabar hingga waktu maghrib tiba. Puasa juga menuntut kita berdisiplin dalam berbagai hal seperti waktu sahur, berbuka, shalat tarawih dan tilawah Alqur’an.

Ketiga, manfaat moral-spiritual. Puasa membangun ketaqwaan dan keikhlasan. Dengan ketaqwaan, manusia akan memperoleh kasih sayang, ampunan, diberi kemudahan menghadapi masalah kehidupan, dijauhkan dari api neraka dan mendapat kebahagiaan abadi, surga. Puasa juga melatih kita berempati terhadap sesama dengan menahan rasa lapar seperti yang dialami jutaan manusia yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.

Dalam kehidupan, puasa ibarat perubahan biologis makhluk hidup menuju bentuk sempurna yang disebut dengan metamorfosis. Dari seekor ulat yang bagi kebanyakan orang dianggap menjijikan, berubah secara bertahap ke dalam wujud kepompong. Akhirnya, lahirlah kupu-kupu, serangga cantik rupawan yang dicintai banyak orang. Maka tidak salah kiranya jika menyebut orang yang berpuasa dengan metafor ‘Kepompong Ramadhan’.

Republika (Hikmah), 27 Agustus 2008

Singa Dan Rusa Afrika

August 26th, 2008 by bangsaid

Di
afrika setiap pagi, seekor rusa terbangun dan dia harus berlari
setidaknya lebih cepat daripada rusa yang paling lambat agar dia bisa
hidup hari itu tanpa dimakan binatang buas. Begitu juga halnya seekor
singa, begitu terbangun dia harus berusaha berlari setidaknya lebih
cepat dari pada rusa yang paling lambat. Supaya dia dapat bertahan
hidup dan tidak mati kelaparan.

Tidak peduli anda mau menjadi
rusa atau singa hari ini. Yang pasti hidup akan berjalan terus. Waktu
akan terus bergulir tanpa menunggu siapapun. Waktu Selalu berlari cepat
meninggalkan kita. Tanamkan dalam hatimu bahwa setiap mata anda terbuka
dipagi hari. Begitu anda bangun. Perlombaan sudah dimulai. Mau tidak
mau anda harus berusaha sekuat tenaga mengejar segala ketinggalan anda
menuju cita2 yang selama ini anda inginkan.

Perlombaan manusia
memang tidak begitu dramatis seperti halnya rusa dan singa di afrika.
Tapi tanpa kerja keras, tujuan yang nyata, planning serta keyakinan
yang teguh. Kesuksesan tidak akan menghampiri anda. Kenyataannya banyak
orang menyia-nyiakan waktunya hanya untuk mengeluh pada hal-hal kecil.
Terlalu mempermasalahkan sesuatu sehingga menghambat dan menghabiskan
energi serta waktu yang di anugrahkan oleh Tuhan. Bila kenyataannya
anda adalah seekor singa atau rusa. Hampir dipastikan anda tidak
memiliki waktu untuk mengeluh sedikitpun. Jadi, tinggalkan sifat
bersungut-sungut dan menyalahkan segala sesuatu. Berlari terus tanpa
menghiraukan segala sesuatu. Itulah yang akan membuat anda berhasil dan
beruntung.

“Jadi tidur sebentar lagi. Mengantuk sebentar lagi hanya akan membawa anda pada kegagalan dan kemiskinan.“

Orang Bebas Adalah Mereka Yang Bertanggung Jawab Penuh

August 26th, 2008 by bangsaid

Di
hari anda menyatakan bertanggung jawab atas semua tindakan anda,
termasuk kegagalan, di saat itulah anda memahami arti kebebasan. Banyak
orang mencari kebebasan dengan menyudutkan orang lain atas kegagalan
yang terjadi. Ini bukanlah kebebasan. Ini adalah ketakutan. Bila anda
telah bertekad menempuh jalan keberhasilan, yang anda perlukan adalah
rasa bebas dan keberanian. Sungguh berbeda antara keberanian dengan
ketakutan. Kebebasan melahirkan keberanian dan tanggung jawab. Anda tak
pernah tiba di puncak dengan melemparkan tanggung jawab pada orang lain.

Pepatah
mengatakan, semakin tinggi cemara semakin kencang angin menerpa.
Berdiri di puncak keberhasilan memerlukan keberanian yang tinggi. Bukan
hanya karena persoalan yang anda hadapi semakin sulit. Namun, yang
terpenting adalah anda harus mempertanggungjawabkan semuanya sendiri.
Tak ada tempat lagi untuk meletakkan beban anda kecuali pundak anda
sendiri. Semua itu membutuhkan satu kualitas, yaitu keberanian.